Setelah setahun berlalu, kita kembali lagi ke Jepang untuk ketiga kalinya. Dengan promo yang sama dari ulang tahun Jetstar di tahun 2025 lalu yaitu kalau beli tiket pergi kita dapat tiket balik gratis, kita berhasil amankan tiket kita ke Jepang untuk tahun 2026. Dan disinilah kita mendarat di Tokyo dengan pesawat Jetstar, langsung dari kota Brisbane Australia. Kita dapat tiketnya A$274 atau anggaplah sekitar 2.8juta Rupiah per orang, tiket pulang pergi Brisbane Tokyo. Berangkat dengan suami ke Jepang dengan total perjalanan 8hari 7malam di pertengahan bulan Juni (awal musim hujan). Harga super murah ini hanya dapat 7kg per orang yah. Karena Jetstar adalah budget airlines, jadi untuk tambahan makan minum (harga mulai A$8 banana bread dan kopi atau teh), bagasi (paling murah A$87/20kg), inflight entertainment (A$14) bisa ditambahkan sendiri kalau sudah terlanjut beli tiket yang basic. Tersedia beberapa paket bundle dengan bagasi yang bisa dipilih saat pembelian tiket.

Walaupun aku sudah punya e-visa waiver Jepang, namun aku tidak bisa dapat boarding pass online, karena aku perlu melakukan documents check di konter check-in di bandara. Jadi aku pastikan aku bawa print out visa Waiver Jepang dan dalam bentuk digital, juga tiket pulang pergi dari Brisbane Jepang in case ditanya khan yah. Dan ternyata cepat juga, saat dikonter hanya diminta menunjukan visa Waiver Jepang dan passport. Walaupun tiket pesawat keluar dari Jepang tidak ditanya, mending disiapkan kalau ditanya kita sudah punya. Apalagi kita hanya diizinkan mengunjungi Jepang sekali visit 15 hari dengan e-visa waiver Jepang. Setelah itu aku dapat boarding pass, prosesnya cepat kurang dari 5menit. Bahkan antriannya yang lebih dari 20menit nunggu giliran. Ehhe.

Untung saja suami punya akses lounge bandara dari Priority Pass, lumayan khan bisa sarapan sebelum berangkat di lounge Plaza Premier dan lounge Escape. Paling tidak perut ini tidak rewel di awal penerbangan (hehe). Sudah beberapa kali ke lounge bandara yang baru ‘Escape’, ternyata mba nya yang check-in kan kita dari Indonesia (Kendari). Baru kali ini dipertemukan dengan orang Kendari di Australia. Emang paling senang, kalau ketemu sama orang Indonesia di luar negeri, apalagi yang ramah dan baik. Bisa banyak ngobrol pakai bahasa Indonesia dan senang juga bisa dengar cerita mereka. Bahkan suami yang paling semangat kalau kita ketemu orang Indonesia, katanya sekalian bisa praktek bahasa Indonesia nya. Semoga bisa ketemu lagi sama mba nya.

Escape Lounge, Bandara Brisbane (Australia)

Saat naik pesawat Jetstar ke Tokyo kali ini, kita sempat kaget ternyata sudah direnovasi. Kursi kelas bisnis sudah ditambah, dan kursi kelas ekonomi nya sudah dengan style yang baru. Lebih nyaman, dengan head rest yang bisa ditekuk supaya bisa enak tidur, ada dua colokan USB-C, ada cantolan untuk gantung sesuatu seperti jaket, kantong kursi di depan ada beberapa compartment, meja lipat untuk makan, cup holder, tempat sandaran hp (bisa enak nonton dari hp atau ipad) dan tombol untuk lampu & untuk panggil pramugari/ra nya sudah lebih mudah untuk dijangkau karena ada di dekat kantong kursi. Serta jendelanya bisa di redupkan gitu tanpa menutup jendela. Tinggal tekan tombol kita bisa sesuaikan seberapa redup yang kita mau, apalagi kita yang terbang diantara pagi sampai sore hari. Selain itu, mereka juga menawarkan akses wifi berbayar mulai dari A$30.

Selama di pesawat, kita pesan combo kue pisang dan minuman panas untuk A$8 per orang. Kita sudah pesan online jadinya dilayani lebih dahulu sebelum yang mau pesan makan minum saat di atas pesawat. Di pesawat juga kita ketemu pramugara orang Indonesia, dilayani sama bli dari Bali, baik banget bantuin aku yang sempat ada drama kehilangan hp (hp ditinggal di toilet). Untung saja pada akhirnya ketemu juga, ada orang baik yang berikan hp nya ke pramugari. Baru mau mulai perjalanan sudah ada drama hilang hp. Semoga ini pengingat untuk lebih hati-hati yah.

Jetstar airlines (budget airlines), Brisbane 9.30am ke Tokyo (bandara Narita T3) jam 5.30pm, 9jam 10menit, seat configuration 3-3-3, 2.8 Juta Rupiah/ A$274 per orang tiket pulang pergi, hanya termasuk 7kg bagasi kabin per orang.

HARI PERTAMA: KEDATANGAN DI TOKYO

Setelah menempuh perjalanan udara selama 9jam, akhirnya bisa tiba juga di bandara Narita terminal 3 di Tokyo. Dengan modal Visa Waiver Jepang yang dibuat ditahun 2025 yang berlaku untuk 3 tahun, kita bisa kembali dengan nyaman. Selama masih menggunakan e-paspor (masih berlaku) yang sama dengan yang kita daftarkan di e-visa waiver Jepang yang masih berlaku juga, kita tidak perlu lagi daftar ulang. Di konter imigrasi bandara Narita, kita hanya diminta scan sendiri kode QR (visit Japan Web), menunjukan Passport lalu nanti passport kita ditempelkan stiker kedatangan oleh petugas, foto, dan sidik jari. Itu saja, tanpa ditanya apapun.

Visit Japan Web / Formulir Kedatangan (Imigrasi)

Saat menunggu di lounge bandara, kita sempatkan mengisi formulir online untuk keperluan imigrasi Jepang saat kedatangan di ‘Visit Japan Web’. Pokoknya kalian akan membutuhkan beberapa informasi tentang liburan kalian di Jepang seperti visa yang kalian gunakan, penginapan atau hotel, berapa lama, maskapai, data diri, tujuan perjalanan dan sebagainya. Di akhir, nanti akan dapat QR code gitu (satu orang satu QR code) yang perlu kita screenshot dan nanti akan kita tunjukan atau scan saat tiba di Jepang. Kalau kalian tidak melakukan daftar online ini, tidak masalah namun kalian akan butuh tambahan waktu lagi di bandara untuk mengisi formulir ini di bandara. Saat tiba di bandara, sebelum ke antrian konter imigrasi, disediakan area dimana kalian bisa mengisi formulir kedatangan imigrasi ini on the spot. Karena kita travel berdua, hanya suami saja yang pakai akun nya dengan menambahkan data diriku. Jadi saat berada di terminal kedatangan, kita antri imigrasi lalu nanti kita diminta menunjukan paspor, scan sendiri QR code kita. Setelah itu baru ambil bagasi lalu melewati customs dengan scan QR code kita lagi di salah satu mesin dan diakhir akan ditunjukan rute huruf apa untuk kita keluar (kita dapat rute A). Proses imigrasi kita begitu cepat, karena tidak ada antrian imigrasi dari pesawat sebelumnya, kita termasuk yang turun pesawat lebih awal jadinya langsung ke konternya tanpa nunggu giliran, QR code kita udah ready, dan tanpa checked-in bagasi pula. Kemungkinan kurang dari 15menit.

Kereta Keisei Narita SkyAccess ke Hotel di Ginza

Saat berada di terminal kedatangan internasional, kita langsung cari arah untuk ke stasiun kereta bandara (Narita Ariport T2.3 Station) untuk bisa naik kereta Keisei SkyAccess yang jam 6.07pm. Kita ikutin petunjuk tulisan atau gambar ‘train’, kita dibawah turun lewat eskalator ke lantai B1 (basement 1), nanti dibawah terus ke arah Keisei line (KS). Lalu ikut petunjuk ke platform 1, nanti ada tulisan SkyAccess (warna orange) dan SkyLiner. Saat itu kereta SkyAccess dan Skyliner berhenti di plantform yang sama, jadi pastikan tidak salah naik. Soalnya yang skyliner butuh tambahan biaya lagi untuk reservasi seat. Tiket reservasi seat bisa dibeli saat berada di platform, nanti ada petugas yang membantu, kalau kalian ingin naik yang SkyLiner. Paling mudah nanti ada tulisan di keretanya entah SkyAccess atau SkyLiner, selain itu yang paling membedakan kursinya, kalau SKyAccess seperti kereta dalam kota biasa yang berhadap hadapan. Sedangkan yang Skyliner kursinya konfigurasi 2-2 hadap ke satu arah (ke depan atau kebelakang) dan kita duduk sesuai nomor kursi.

Kalau kita, naik kereta yang SkyAccess, hanya bayar sekali saat lewati gate tiket dengan tap kartu digital ‘Suica’ di wallet iphone, harganya 1,414 yen (A$12.6/ IDR 156k) per orang. Kalau kalian yang stay di area Ginza seperti kita, disarankan juga naik yang SkyAccess dibandingkan Skyliner, karena kita hanya perlu naik satu kereta saja tanpa pindah kereta, sangat nyaman. Kita juga sempat buru-buru untuk naik SkyAccess yang jam 6.07pm karena kalau tidak kita harus nunggu yang jam 8pm, pastikan cek jam-jam keberangkatan kereta ini apalagi kalau tiba malam hari di Narita.

Kalau kalian yang bawa koper besar bisa pertimbangkan naik bus bandara tanpa perlu ganti kereta, ataupun yang kereta SKyLiner. Walaupun skyLiner, harganya dua kali lipat dari SkyAccess karena perlu reservasi kursi, kereta ini didesain khusus sebagai kereta premium dengan jalur express dari bandara Narita ke pusat kota Tokyo, sehingga memiliki kursi yang nyaman, dipastikan kalian punya tempat duduk selama 45menit perjalanan, dan memiliki area khusus untuk bagasi yang cukup luas. Soalnya selama 1jam 20 menit perjalanan, kita sempat berdiri sekitar 30menitan karena keretanya rame jam pulang kerja, itupun kita sudah di gerbong yang pojokan.

Setelah lebih dari sejam di kereta Keisei SkyAccess, kita turun di Higashi-Ginza station lalu tinggal jalan kaki saja sekitar 10menitan (550meter) untuk ke hotel. Nyaman sekali, satu kereta dan jalan kaki sebentar sudah bisa sampai hotel. Karena kita hanya bawa satu backpack dan satu koper kabin untuk berdua, jadi kita nyaman saja naik kereta ini.

Dari Narita Airport Terminal 2.3 station, naik Keisei Narita Sky Access (orange line), tujuan Nishi-Magome, harga 1,414 yen / 156k idr/ A$12.6 per orang, turun di Higashi-ginza Station, 1h20min, 19stops. Bayar pakai kartu digital Suica dari aplikasi wallet nya iphone).

Kartu Suica (IC) digital di aplikasi Wallet nya iPhone

Tarik Uang Tunai (Yen)

Untuk mendapatkan uang tunai Yen, kita tarik uang di atm Seven Bank (7-Eleven) di dekat hotel. Atm andalan untuk tarik uang yen karena ada menu bahasa Inggris yang mudah digunakan dan mudah ditemukan. Karena rute perjalanan kali ini banyak menghabiskan waktu di daerah pedesaan pegunungan Jepang, (bukan kota besar), kita akan narik uang Yen. Untuk pembelian di resto kecil, food stall, bus lokal, loker koin, bus antar kota atau desa dan sebagainya di area pegunungan Jepang. Direkomendasikan bawa dompet koin juga kalau kalian akan banyak menggunakan uang tunai ketika mengunjungi daerah pedesaan atau pegunungan yang bukan kota besar. Untuk memudahkan saat bertransaksi. Kita tarik uang sekitar 20k yen untuk 8hari di Jepang, semoga bisa cukup yah. Ada biaya penarikan uang di 7bank, 220yen (24k IDR/ $1.94).

Internetan

Untuk bisa akses internet selama di Jepang supaya tidak nyasar khan yah, kita mengandalkan wifi (hotel) dan roaming internasional kartu sim Australia kita (A$5 atau 60k idr per hari). Untuk kemudahan dan kenyamanan, biasanya kita aktifkan saja roaming internasional. Awalnya kita masing-masing akan aktifkan internet roaming dari hp, namun karena ternyata banyak tempat juga yang menawarkan wifi gratis gitu. Jadinya suami saja yang aktifkan roaming, aku nebenk kalau butuh dan tidak dapat wifi. Aku andalkan wifi selama di Jepang. Aku sering dapat wifi di toko-toko (seperti Itoya dan uniqlo di Tokyo), stasiun kereta atau bus, shopping mall, restoran, dan sebagainya.

Kartu Isi Ulang SUICA (e-money card)

IC Suica adalah e-money nya Jepang yang bisa dipakai untuk transportasi umum, belanja di minimarket (konbini 7-11, family mart, lawson dan sebagainya), vending machine, locker koin, bahkan di beberapa restoran juga. Bisa beli kartu fisiknya yang berlaku untuk 10tahun ataupun yang terkoneksi di hp (tidak berbayar). Kalau kalian beli yang kartunya, bisa diisi ulang lewat mesin top up di stasiun kereta dan bisa juga diuangkan kembali jika masih ada sisa/ balance. Ada berbagai macam kartu e-money (IC) di seluruh Jepang, biasanya dibagi per regional, kalau Suica dan Pasmo dipakai di Tokyo, sedangkan di Osaka pakai IC Icoca.

Bahagia banget waktu pertama kali tap kartu IC suica lewat wallet iPhone untuk naik transportasi umum. Soalnya langsung teringat kerempongan waktu baru pertama kali naik transportasi umum di Tokyo Jepang. Iyah nggak sih… Untuk top up saja kita tinggal pakai Apple Pay dan kita bisa langsung lihat transaksi kita. Jadi lebih mudah untuk trekking pengeluaraan.

Ibis Styles Ginza Hotel

Selama satu malam di Tokyo kita menginap di Ibis Styles Tokyo Ginza. Kita dapat harga 1.7jt idr (A$134/ 15,200jpy) per malam untuk dua orang. Namun kita bayar sebagian pakai 2k points accor dan sisanya bayar 877k idr (A$69) secara online. Harga ini belum termasuk makan pagi, namun karena status member Accor kita dapat makan pagi buffet (buka jam 7-10.30am, harga A$19/orang atau 2200 yen). Kita juga sempat beli makanan di konbini depan hotel untuk makan malam, karena jujur kita sudah tidak ada tenaga lagi untuk jalan-jalan. Makan malam pertama di Jepang disponsori oleh konbini, bayar sendiri (ehehe). Kata masnya kita beli banyak, jadi dapat minuman ocha dingin. Asikkk.

Untuk minum, seperti di berbagai negara maju, kita bisa minum air putih langsung dari keran di Jepang, jadi jangan lupa bawa botol air minum yang bisa diisi ulang yah (hemat deh urusan minuman).

Makan malam dari konbini. Dumplings 358 yen, tuna mayo onigiri 198yen, omurice 645 yen.

Check-in hotel lancar jaya, apalagi kita sudah bayar online jadi prosesnya efisien. Karena kita member Accor Platinum, kita juga dapat welcome drink, welcome amenities, 2 botol air putih, voucher makan pagi untuk dua orang, dan late check-out tanpa diminta langsung dapat sampai jam 2pm (normalnya jam 11am). Kita bisa pilih welcome drink kita dari menu tersedia saat check-in, kita ambil yang lemonade dan Vit CC drinks Suntory. Welcome amenities nya kita dapat baked tiramisu, lumayan dapat dessert untuk besok diperjalanan di bus saat pindah kota. Kita juga bisa akses mesin kopi gratis di lantai 1 lobby area.

Dapat gratis dari hotel sebagai member Accor

Kita dapat kamar di lantai 13 paling atas, kamar tipe standarnya 14m2 compact dan functional. Kamarnya bersih, standar hotel di Jepang perlengkapan dan amenitis nya lengkap untuk hotel bintang tiga seperti piyama, semprotan pengharum, air purifier, TV (bukan yang smart), mini kulkas, kettle air panas, meja & kursi kerja, safety box, ada colokan Japanese, hairdryer, slipper, bathtub (bathtub paling mungil yang pernah aku lihat di hotel), dan toilet elektrik standar Jepang. Tersedia juga amenities yang bisa diminta di resepsionis. Common area hotel berada di lantai dasar, ada ruang cuci (mesin cuci dan pengering), mesin es batu, microwave untuk panasin makanan, dan vending machine. Tidak ada kopi teh di kamar, namun kita bisa akses mesin minuman di lantai lobby sebagai member Accor (atau 300 yen per minuman, yang bukan member). Di mesinya ada kopi, minuman coklat dan matcha. Biasanya di hotel Accor tersedia juga colokan internasional dan usb, mungkin karena bangunan lama jadinya hanya ada colokan Jepang.

Paling suka karena lokasinya yang strategis dekat dengan tiga stasiun kereta metro maupun subway (10menit jalan kaki/ 750m), don quite (terdekat 170meter), konbini (terdekat dengan Family mart 60meter)(7-11 terdekat 95meter), terdapat banyak pilihan restoran dan beberapa cafe disekitar hotel. Kita juga bisa jalan kaki sekitar 15menit (950) ke Fish Market Tsukiji, 5menit jalan ke Uniqlo Ginza Flagship, 750meter ke Ginza Itoya (toko alat tulis 12 lantai yang sempat viral di sosmed, paling terkenal dan ikonik di Jepang), 600m ke Daiso, 700m ke Ginza Loft (department store), 550m ke Muji Ginza serta Ginza shopping area disekitarnya. Lumayanlah yah hotelnya menyediakan yang kita butuhkan selama transit numpang tidur semalam di Tokyo.

Besoknya kita cobain buffet makan pagi nya di lantai dasar. Ternyata restoran untuk sarapan ada disamping hotel, restoran Thailand gitu, ada pintu yang menghubungkan hotel dan resto Thailand ini. Jadi kalau siang dan malam, restoran Thailand ini dibuka untuk umum. Walaupun pilihan makanannya tidak terlalu banyak variasinya, makanan hot food nya enak juga loh, aku sampai tambah dua kali untuk sup Thai nya dan Thai Chicken curry nya juga. Pertama kali juga nyobain Nato di Jepang yang sehat itu, cukup sekali sendok kecil saja, tidak tahan sama tekstur dan rasanya. Yang penting pernah coba saja yah. Telur rebusnya juga dimasak dengan sempurna, warna kuning telurnya cantik. Pilihan makanan western nya juga ada bacon, sosis, telur scramble/ orek, yoghurt, bircher muesli dan pastry. Ada beberapa pilihan pastry, kita cobain klasik croissant dan danish coklat. Lembut dan enak. Area makannya juga tidak terlalu banyak, mungkin muat sekitar 35 orang total.

Makan pagi buffet di hotel, pertama kali makan nato

HARI KEDUA: PINDAH KOTA KE NAGANO

Kalau tahun lalu kita sudah ke 3 kota yang paling banyak dikunjungi turis di Jepang yaitu trio Tokyo, Osaka, dan Kyoto; liburan tahun 2026 ini kita melipir ke area pegunungan Jepang. Masih di pulau utama Jepang yaitu Honshu, di bagian central Jepang, kita akan naik bus ke arah barat dari Tokyo yaitu Nagano.

Nagano adalah kota utama di Prefektur Nagano di regional Chubu. Prefektur Nagano ini dikelilingi pegunungan yang merupakan bagian dari Japanese Alps. Sekitar 80an persen wilayahnya berupa pegunungan dan perbukitan. Sangat bersyukur banget kita bisa menikmati salah satu wisata alam terbaik di central Jepang. Bersantai di Hakuba dengan pemandangan pegunungan Japanese Alphs utara dan menikmati berada di salah satu alam yang paling bersih dan terjaga di Jepang (Kamikochi)

Dan ternyata tempat ini tidak terlalu jauh dari Tokyo, ada Shinkansen kereta super cepat Jepang yang hanya ditempuh selama 1.5 jam. Sebagai gambaran, kalau berkendara sendiri bisa memakan waktu 5jam tanpa berhenti tanpa tol. Paling cocok kalau kabur dari rutinitas kerja di Brisbane yang super sibuk, nyasarnya disini. Udaranya sejuk, air pegunungannya segar banget, pemandangannya luar biasa indah, makanannya enak dan orang lokal yang ramah. Bisa nggak sih, kita berlama-lama disini.

Setelah makan pagi di hotel dan packing lagi, kita menyempatkan diri untuk jalan jalan disekitar hotel. Mumpung hotel kita di Ginza yang terkenal dengan area perbelanjaannya, kita jalan jalan dulu sambil cuci mata untuk menghabiskan waktu sebelum pindah kota nanti siang jam 1.30 dengan jalan kaki ke tempat-tempat belanja. Kita ke Ok mart, Ginza Itoya, dan Uniqlo flagship store. Kita sempat belanja jaket UV di Uniqlo, ini tuh berguna banget kalau jalan jalan outdoor dengan matahari terik. Bahannya ringan dan adem saat dipakai. Memang sudah dari dulu ngincer nya, dan baru kesampaian. Baru sadar juga di Uniqlo ini banyak pakaian spesifik untuk anti-UV. Selain jaket, ada juga celana dan sebagainya. Kalau di Ginza Itoya, kita hanya jalan jalan saja soalnya harganya diluar budget yah. Memang tokonya untuk stationary premium, berasa seperti di butik jam tangan mewah. Karena ada bagian ‘pen care room’ yang menyediakan berbagai layanan konsultasi, pembersihan, ataupun perbaikan alat tulis premium. Melihat adanya toko seperti ini di Jepang, sudah bisa kita lihat bagaimana orang Jepang sangat menghargai kualitas, detail kecil, dan berdedikasi tinggi. Sangat kagum dengan budaya Jepang yang sangat menarik ini.

Uniqlo Ginza

Metro dari Ginza ke Shinjuku

Awalnya pengen makan siang disalah satu restoran disekitar hotel sebelum ke terminal bus, namun karena kelamaan jalan-jalannya, kita tidak sempat makan. Akhirnya, kita buru-buru balik hotel untuk check out, sempat cobain matcha dingin dari mesin minuman di lobby hotel dan langsung menuju Shinjuku Expressway Bus Terminal. Salah satu terminal bus utama di Tokyo yang biasanya dipakai untuk naik bus ke pegunungan Alps Jepang. Dari hotel jalan kaki sekitar 10menit (700m) ke stasiun Ginza lalu naik metro Marunouchi line (red line) 15menit saja (7 stop) dan turun di Shinjuku-sanchome station. Lalu jalan kaki lagi ke bus terminal Shinjuku Expressway 4F, dengan mengandalkan google maps dan petunjuk yang ada tulisan Shinjuku Expressway nya. Karena belum sempat makan siang, kita beli lagi makanan andalan ‘onigiri salmon dan tuna’ dan pokari dari konbini di terminal bus.

Dari Ibis Styles Ginza, jalan 700m/ 10min jalan ke Higashi-Ginza Station, naik kereta Marunoushi line (red) tujuan ‘Ogikubu’ peron 3 local, turun di Shinjuku-sanchome station dan jalan 450meter ke Shinjuku Expressway Bus Terminal. 209 Jpy/ 21k IDR per orang. Bayar dengan tap Suica digital dari iPhone.

Bus ke Nagano

Terminal Bis Shinjuku (lantai 4F), bus stop nomor D11

Karena kita sudah pernah cobain naik Shinkansen, kita pengen juga cobain naik bus antar kotanya. Selain itu, bus juga merupakan alternatif paling murah untuk pindah kota, yang jauh lebih murah dari Shinkansen (Hokuriku shinkansen 8,450jpy, 1jam 43menit dari Tokyo station. Ada beberapa pilihan operator bus yang berhenti di stasiun Nagano. Kita memilih naik Willer bus karena selain tarifnya yang hampir paling murah, yang paling penting karena busnya berhenti di hotel kita menginap sebelum akhirnya berhenti di perhentian terakhir di Nagano station. Walaupun bus yang kita sukai ini hanya memiliki dua jam keberangkatan saja per hari yaitu jam 7.25 pagi dan 1.30pm.

Willer Bus dari Tokyo ke Nagano

Willer Bus adalah salah satu perusahaan highway bus besar di Jepang yang terkenal. Mereka juga memiliki pilihan bus malam untuk rute perjalanan jauh. Tiket bus nya sudah kita booking sekitar 3 minggu sebelum hari perjalanan lewat online webnya di willer-travel.com. Menurut web nya, kita dapat harga diskon karena booking jauh-jauh hari, harganya 2,070jpy/ orang/ 230k idr/ A$19 untuk perjalanan 4jam. Sempat cek juga, kalau booking bus yang sama di hari sebelum keberangkatan, harganya naik jadi sekitar 3000-an jpy/ orang. Lumayan kalau kalian sudah punya jadwal atau itinerary yang fix, bisa mempertimbangkan beli tiket jauh hari (booking online dibuka minimum 1bulan) sebelum hari keberangkatan. Setelah proses booking termasuk pilih kursi dan bayar tiket bus secara online selesai, kita dapat QR code yang aku screenshot untuk nanti ditunjukan saat boarding.

Willer Bus, bus nomor WN5503, berangkat dari Shinjuku Expressway bus terminal 4F (Shinjuku Station South Exit), jam 1.30pm, 4jam 10menit perjalanan. Turun di Mercure Nagano at 5.40pm, dua kali berhenti sebentar di rest area. Seat 1C & 1D (dipilih sendiri). Booking dan bayar online 2,070 Jpy per orang (230k IDR / A$19).

Sumber: willer-travel.com

Saat berada di terminal bus Shinjuku (4F), kita langsung cek layar untuk jadwal keberangkatan bus kita. Nanti dilayar akan ditunjukan platform atau gate nomor berapa tempat busnya akan berhenti dan boarding penumpang. Ternyata untuk bus kita tujuan Nagano, kita diarahkan untuk ke gate D11 untuk boarding ke bus. Nanti ada putunjuk di lantai, kemana tempat tunggu bus kita. Di gate D11 ini ada tempat duduk untuk tunggu bus. Kita mulai boarding 10 menit sebelum jam berangkat, dengan menunjukan kode QR yang telah di email kan ke kita. Nanti driver nya akan scan lalu kita bisa naik bus dan duduk di nomor kursi yang sesuai dengan tiket kita. Kita berangkat tepat jam 1.30pm dari Shinjuku Expressway Bus terminal 4f (Shinjuku station south exit) tepatnya di gate D11, dan turun di penginapan hotel kita di Mercure Nagano Matsushiro Resort & Spa jam 5.30pm (10 menit lebih awal dari jam yang seharusnya).

Kursi kita di 1C dan 1D tepat berada di belakang sopir, sangat nyaman untuk keluar masuk bus. Kursinya juga nyaman walaupun tidak terlalu bagi suami yang agak besar (kursinya terlalu ngepas), tersedia juga selimut kecil yang disimpan ditempat penyimpanan di atas kepala kalau kedinginan, leg rest, colokan usb, cantelan untuk gantungan, seat pocket, dan bantalan empuk menyanggah kepala. Yang paling unik, ada fitur canopy yang bisa menutup wajah dan partisi gitu antar kursi untuk menjaga kenyamanan kalau duduk bersebelahan dengan stranger atau orang yang tidak dikenal.

Selama sekitar 4jam perjalanan, karena bus tidak memiliki toilet, kita berhenti dua kali (jam 2.30 &4pm) selama 15 menit setiap perhentian untuk toilet break. Area peristirahatannya ternyata bagus juga yah, tidak hanya ada toilet, namun ada yang jualan makanan maupun souvenir, mesin atm, vending machine, taman hijau gitu, smoking area. Paling menarik mata adalah berbagai jenis tong sampah nya ada banyak banget berjejer sekitar 12. Kita yang lihat, sempat terkagum bagaimana orang Jepang hidup tertata seperti ini, sampah saja dipisahkan seperti ini. Luar biasa. Memang selalu kagum kalau jalan jalan ke Jepang, sistemnya rapih dan make sense. Lumayan lah toilet break sekalian untuk merenggangkan kaki dan menghirup udara segar.

Toilet break 15 menit di Rest Area saat ke Nagano naik bis

Mercure Nagano Matsushiro Resort and Spa

Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di hotel Mercure Nagano. Bus nya drop kita tepat di depan gedung hotel. Mantap sekali, kita langsung masuk untuk check-in. Lobby nya luas banget, hotelnya didominasi warna gelap, dan terlihat old fashioned. Namun hotelnya terawat, bersih dan nyaman juga. Staff receptionist nya orang Jepang ramah banget dan proses check-in kita juga efisien. Setelah membayar, kita langsung dapat kunci kamar.

Kita dapat kamar di lantai paling atas lantai 13 dan senang banget ternyata kita dapat upgrade kamar yang tipe ‘Classic Junior Suite, Japanese-Western Style’. Dari kamar kita, bisa lihat hamparan pegunungan Shinshu yang mengelilingi kota Nagano dari jendela yang lebar. Kita bisa lihat pemukiman penduduk, persawahan, dan jalan raya. Pemandangan favorit di pagi dan sore hari indah banget, apalagi jendela kita bisa dibuka sedikit untuk menghirup udara segar pegunungan.

Pemandangan mountain village dari kamar hotel kita di pagi hari.

Setelah lebih dari 4 jam berada di dalam bus, sampai juga di hotel pertama kita di area pegunungan yaitu Mercure Nagano Matsushiro Resort and Spa. Kita menginap selama 4 hari 3 malam di kamar tipe tradisional Jepang yang pakai tatami dan tidur di futon dengan pemandangan pegunungan. Ukuran kamarnya luas (35m2), bersih, kamar mandi ada bathtub nya, amenities nya lengkap dan yang kita butuhkan tersedia (seperti kettle, tv, kulkas kecil, slipper, dsb). Beruntung sekali kita dapat harga diskon karena memiliki member Accor plus, harga kamarnya 5800jpy/ malam/ 647k/ A$51 untuk hotel resort bintang 4.

Classic Junior Suite Japanese-Western style room

Kamarnya luas banget 70m2, kita bisa memilih mau tidur seperti biasa dikasur atau di tempat tidur futon diatas lantai tatami. Suka suka kita saja yah (ehehe). Walaupun hotel terlihat klasik dengan furnitur nya dan interiornya, namun kita terkesan dengan kebersihan dan kondisi kamarnya yang terawat. Pokoknya semua yang kita butuhkan tersedia di kamar, perlengkapan kamar dan amenities nya lengkap. Kita juga senang banget bisa nyobain duduk makan di meja makan lesehan ala Jepang dan tidur di tempat tidur ‘futon’ diatas lantai tatami. Sudah berasa di dalam kamar nobita nya doraemaon.

Selain itu, baru pertama kali bisa nyobaiin Yukata seru juga. Banyak tamu hotel yang kebanyakan orang Jepang ini menggunakan Yukata hotel untuk pergi sarapan pagi buffet maupun makan malam di restoran serta untuk ke onsen yang dilantai 3 hotel. Di hotel ini kita paling merasakan pengalaman lokal yang otentik, dibandingkan hotel hotel lainnya selama liburan di Jepang.

Sebagai member platinum Accor, kita juga dapat welcome amenities dan kartu ucapan dari hotel. Kita dapat jus apel, selai apel, dan manisan chestnut. Prefektur Nagano ini memang terkenal dengan apel dan chestnut. Nagano itu salah satu penghasil apel terbesar di Jepang. Jenis apel yang terkenal ini salah satunya apel Fuji, Shinano sweet dan Shinano gold. Begitu juga dengan Chestnut, mereka penghasil chestnut yang berkhualitas tinggi di Jepang.

Salah satu yang paling terkenal di hotel ini adalah onsen nya. Rame banget onsennya, kita saja baru mau masuk keluar lagi saking ramenya. Kebanyakan yang di onsen, orang tua dan kebanyakan orang lokal Jepang. Walau area onsen nya luas ada yang outdoor dan indoor juga ada saunannya, namun orangnya banyak juga, hm kemungkinan sekitar 15 orang saat itu di sore hari. Katanya air panas nya mengandung kalsium, iron, dan sodium, mineral yang baik untuk tubuh. Onsen nya buka pagi jam 6-10 pagi dan 3-11pm. Kita bisa pakai yukata ke onsen dan tidak lupa bawa handuk dari kamar karena tidak ada handuk di onsen nya.

Hotel ini juga memiliki lounge yang bisa diakses untuk semua tamu tamu hotel. Ada dua sesi jam buka nya yaitu ‘social evening’ jam 3-6sore dan ‘night cap’ jam 9-11malam. Tersedia beberapa pilihan snack makanan ringan dan minuman beralkohol juga (wine, beer, spirit). Banyak juga orang yang ada di lounge nya memakai Yukata, ada yang sambil ngobrol maupun baca buku atau main game gitu. Lounge nya ini dekat satu lantai dengan onsen, kemungkinan banyak yang ke lounge setelah mandi di onsen.

‘Night cap’ lounge