Karena sering melewati kelas bisnis saat naik pesawat, tiba-tiba timbul celetukan dalam hati, kapan yah bisa gantian duduk nih sama orang yang sedang duduk saat itu di kelas bisnis.

TUKAR POINT DAPAT KELAS BISNIS

Setelah penantian panjang, akhirnya dapat rezeki anak soleh yang suka menabung point dari frequent flyer yang sudah kita kumpulin jadi satu di akun suami, membawa kita jalan-jalan naik kelas bisnis ke Los Angeles. Kita hanya menukarkan point Virgin Australia sekitar 95,500 dan membayar biaya pajaknya saja sekitar 1.3jt per orang untuk perjalanan 14 jam. Enak banget bisa begitu yah, tukar point maskapai apa, naiknya maskapai apa. Karena memang, Virgin Australia dan United Airlines ini memiliki kemitraan frequent flyer. Untuk menggunakan point ini juga ternyata mudah koq, coba cek saja di situs resmi Virgin Australia Velocity dan pilih opsi ‘use points’ untuk mencari penerbangan yang tersedia untuk penukaran point. Karena tidak semua penerbangan di website ini bisa menggunakan point. Kalau boleh saran, mulai pesan tiket jauh jauh hari untuk meningkatkan peluang kalian mendapatkan kursi dan penerbangan yang diinginkan. Biasanya karena tidak bisa 100% gratis hanya dengan tukar point, kita perlu deh bayar pajak atau biaya tambahan lainnya. Kita sampai rela terbang dari Melbourne ke LA, karena penerbangan yang kita pengen dari kota tempat kita tinggal tidak bisa ditukarkan dengan point Virgin Aus kita.

Semangat sekali pagi itu, kita mulai perjalanan jalan-jalan ini dari bandara internasional Melbourne tepatnya di terminal 2, Australia. Sebagai info sedikit, kita tinggal di hotel Ibis Style Melbourne Airport semalam sebelum berangkat besok paginya. Hotel ini masih baru sekali, baru buka sekitar bulan July tahun 2024. Memang masih kelihatan bagus sekali, moderen, dan yang paling penting kenapa kita pilih hotel ini karena lokasinya yang begitu dekat (tinggal ngesot saja bisa sampai di bandara). Lokasinya ini sangat strategis, paling dekat dengan terminal 4 yaitu terminal maskapai Jetstar, sekitar 3-5menit jalan kaki saja. Kalaupun kalian rempong bawa anak dan koper-koper, pihak hotel menyediakan ‘complimentary shuttle pick-up & drop-off’. Memang sangat rekomendasi sekali bagi kalian yang mencari penginapan dekat bandara.

CHECK-IN ONLINE

Proses check-in dengan maskapai United Airlines ini berjalan mulus seperti jalan tol. Kita sudah bisa check-in online 24 jam sebelum jam keberangkatan. Karena kita adalah manusia-manusia yang malas menunggu bagasi dan segala keribetan yang ada, kita paling senang bawa tas ransel dan tas kabin saja. Apakah kalian tim ransel atau tim bagasi?.

Saat online check-in, kita diminta isi beberapa info tentang data diri di passport kita, upload foto passport yang lembar identitas, dan upload foto stiker visa USA yang masih aktif. Setelah selesai, kita akan mendapatkan update ‘travel ready’ untuk bisa dapatkan ‘boarding pass’ kita. Kita seperti mengisi formulir kedatangan internasional, namun versi yang lebih singkat karena info kita sudah terkoneksi/ terhubung dengan data kita dari airlines nya. Sangat mudah sekali dan tidak pakai lama.

TERMINAL 2 INTERNASIONAL

Saat sudah tiba di T2 ini, kita tidak perlu lagi menghadap ke konter, kita langsung menuju di mesin untuk ‘print out boarding pass’ kita dari hp, hanya dengan scan passport ataupun memasukkan kode booking. Sepertinya ini bandara di kota-kota besar Australia, nanti sudah tidak ada lagi konter ‘check-in’ seperti biasanya. Semuanya tinggal pakai mesin untuk cetak ‘boarding pass’ dan mesin lagi untuk masukan bagasi sendiri.

Bagi yang memiliki tiket kelas bisnis dan diatasnya, nanti ada tanda ‘premier access’ atau jalur khusus yg terpisah dengan yang lain untuk ‘security check’. Sangat nyaman sekali, kalau bandara sedang ramai penumpang atau kalian yang mepet waktu datang ke bandara.

AIRPORT LOUNGE

Sebelumnya United Polaris (sebutan untuk kelas bisnisnya maskapai United Airlines) memiliki lounge di bandara Melbourne, namun sayangnya sudah ditutup. Sebagai gantinya, kita bisa akses ‘Air New Zealand Lounge’. lounge nya berlokasi di lantai dasar dengan pemandangan tempat parkir pesawat dan ‘runway’. Tempatnya juga terbilang cukup luas dan lega dengan berbagai pilihan tempat duduk (sofa, stool, high chair, dan sebagainya) yang bisa menampung sekitar 249 penumpang. Tersedia area kerja (ada printer dan komputer), kamar mandi, gratis wifi, kids corner, tempat titip bagasi, dan sebagainya. Setelah menemukan tempat duduk untuk berdua dengan view pesawat Emirates, kita langsung menyerbu tempat makanannya karena perut ini sudah merontah-rontah minta makan.

Makanan yang tersedia disini adalah makanan barat/ western yah. Seperti biasa kita makan bacon, telur orek, menu vegetarian ‘tofu and vegetable casserole’, yoghurt, smoothies, potongan buah segar dan sebagainya. Kalian juga bisa pesan kopi dari baristanya lewat ipad tersedia didepan meja konter nya. Jadi disini, kita sendiri yang memasukkan pesanan kopi kita. Setelah perut ini sudah mulai terisi, suami memberikan ide untuk pindah lounge kalau saja aku ini pengen makan makanan Asia. Suami ini memang paling tau eh, menyenangkan istrinya. Tidak menunggu lama, kita langsung angkat kaki dari lounge ini menuju Silver Kris Flyer lounge kelas bisnisnya Singapore Airlines. Lounge nya saat itu sibuk sekali, kita dapat tempat duduk paling belakang dan jauh lagi dari makanan. Disini diriku lupa diri, makan lagi nasi goreng, dumpling, siomay, pokoknya segala macam makanan memenuhi piring. Anw, lounge SQ di Melbourne ini tempatnya tidak terlalu besar dan kebanyakan jarak antar kursi nya juga agak mepet yah. Kalau ramai sekali, lounge ini tidak terlalu nyaman. Bagi yang penasaran, kenapa kita sampai nyasar di lounge SQ ini. Itu karena, suami memiliki status ‘platinum’ di Virgin Australia yang merupakan anggota ‘the Star Alliance’ bersama-sama dengan Singapore Airlines, United Airlines, dan Air New Zealand. So, kalau kalian punya status ini dan naik pesawat kelas Bisnis di salah satu anggota ‘the Star Alliance’, kalian juga bisa masuk ke lounge kelas bisnis maskapai anggotanya.

ON BOARD

Proses boarding nya juga mulus, kita mengantri sesuai dengan ‘boarding group’ yang ada di ‘boarding pass’ yang mulai dari 1-5. Jangan lupa siapkan passport dan boarding pass kalian untuk di scan sebelum masuk ke pesawat. Kita booking tempat duduk ditengah supaya bisa bersebelahan dengan si suami dan yang paling penting dan terpenting lokasinya harus dekat dengan wc. Karena memang formasi tempat duduk nya itu 1-2-1 dengan semua kursi menghadap kedepan. Benar sekali, karena kebiasaan yang beser seperti ini, dekat wc itu adalah keharusan. Jangan lupa minum banyak di pesawat yah teman-teman supaya kita selalu terdehidrasi apalagi dalam perjalanan yang panjang dan memakai pelembab, karena udara yang kering diatas udara.

Sambil duduk manis menunggu pesawat berangkat, kita obrak abrik apa saja yang diberikan atau kita nikmati untuk kenyamanan yang maksimal selama terbang. Di United Polaris, kita dapat bantal besar untuk tidur, bantal kecil, matras tambahan tersedia untuk penerbangan malam dan selimut premium yang disponsori oleh Saks Fifth Avenue, department store mewah asal USA. Kita juga mendapatkan tas selempang kecil yang lagi tren yang isinya Amenity kit dari Therabody (berisi lip balm, pelembab, krim tangan, serum mata, dan tisu basah). Selain itu terdapat juga ear plugs, tisue, bolpen, penutup mata, perlengkapan sikat gigi dan kaus kaki.

Belajar dari pengalaman naik maskapai tetangga, kita akhirnya memutuskan memesan secara online makanan utamanya beberapa hari sebelum keberangkatan. Supaya kita tidak kehabisan stok makanan yang pengen kita makan saat di pesawat. Namun kita hanya bisa pesan makanan utama secara online. Sebelum pesawat lepas landas, pramugari/ pramugara United Airlines akan mengambil semua pesanan makanan kalian dan membagikan ‘welcome drink’ (biasanya ada pilihan Champagne, wine, dan juices). Sekitar 1 jam setelah lepas landas, kita dibagikan ‘pre-meal beverage and snack’ dan kita pesan jus jeruk dan kacang-kacangan. Nyaman sekali kabin nya dan pramugari/ pramugaranya sangat baik dan ramah sekali dari awal sampai akhir perjalanan. Salah satu pramugara sempat menawarkan untuk menggantung jaket ku didalam lemari khusus untuk pakaian crew pesawatnya.

Untuk sesi makanan utamanya, kita pilih ‘marinated halloumi cheese with olives, orange, marinated cucumber, spiced honey and crackers’ sebagai makanan pembuka. Makanannya juga datang dengan ‘garden salad, roti dan butter. Halloumi itu adalah jenis keju vegan favorit yang kalau di panggang, terlihat seperti daging karena kejunya tidak meleleh dan rasa serta aromanya juga mantap. Cenderung memiliki rasa asin sedikit tajam dengan tekstur yang kenyal. Selanjutnya makanan utama, aku pesan ‘Roasted Tasmanian Salmon Fillet with Israeli couscous, roasted vegetable, blanched asparagus, roasted cherry tomatoes and lemon hollandaise sauce’. Apapun menunya, hampir selalu pesan hidangan favorit, ikan salmon. Tidak terlalu suka couscous karena teksturnyaf seperti makan boba, namun kalau makannya dengan salmon, habis juga. Untuk makanan penutup, kita tidak melewatkan ‘ice cream sundae’, hidangan pencuci mulut andalan. Pramugari nya akan jalan mendorong trolley es cream sundae. Mereka menawarkan es krim Vanilla dengan berbagai pilihan toppings, sesuai dengan keinginan kita. Ada pilihan saus coklat, karamel, M&M, cherry, remah-remah oreo, saus strawberry dan sebagainya. Sejauh ini, kita sangat menikmati perjalanan kita dengan United Airlines. Pelayanannya ramah, attentive, dan makanannya juga enak. Sangat setuju, kalau es krim sundae ini jadi menu favorit. Yum yum.

Selesai makan, kita mencoba untuk tidur dan mulai mengikuti jam Los Angeles, supaya kita tidak terlalu merasakan efek jet lag. Karena memang saat dipesawat itu, di LA sudah malam, waktu tidur. Sebelum tidur, kita ganti baju tidur dulu yang disponsori oleh United Airlines. Warna baju tidurnya senada dengan maskapainya, biru tua ala United. Karena tidak bisa langsung tertidur, kita ambil beberapa cemilan dulu dari meja snack yang telah tersedia. Ada berbagai variasi cemilah seperti pisang, apel, cookies, chips, dan ada juga hot food (toastie dan tomato soup). Jadi selama di pesawat kita dapat makan dua kali yaitu makan malam dan makan pagi sebelum pesawatnya mendarat di LA. Nyaman sekali, benar-benar kerjaan kita kalau tidak nonton, tidur, yah kita makan-makan.

Hal yang lain yang aku sukai dengan United Polaris ini adalah kursinya yang lebih private/ tertutup. Aku sudah coba untuk mengintip tetangga di samping, tidak kelihatan kalau sedang duduk. Terdapat compartment atau tempat penyimpanan yang tertutup dengan pintu yang pas dibuka ada kacanya. Kita bisa menyimpan botol air minum, pouch toiletries, hp dan apa saja. Ada kacanya yang sangat berguna bagi kita kalalu mau touch-up dan bahkan melihat muka ini kalau ada keremus. Desain fitur area tempat duduknya juga terlihat bagus, simple dan masuk diakal. Tepat dibawah layar hiburan yang berukuran 16 inch, terdapat tempat untuk bisa menempatkan hp/ devices kita saat sedang di-charge. How cool is that. Fitur yang sederhana namun sangat bermanfaat sekali. Selain itu di bagian meja lipatnya, ada tempat sandaran ipad juga bagi kalian yang ingin nonton dari ipad atau hp kalian. Begitu juga dengan colokan headphone nya yang mudah untuk diakses. Satu hal yang kurang berkenan dihati, saat buka meja lipat di depan kita itu, agak susah untuk dibuka. Harus ditekan beberapa kali baru bisa terbuka dengan sempurna.

Puji Tuhan, setelah 14 jam di atas pesawat, akhirnya kita tiba dengan selamat di Los Angeles. Welcome to USA.